Kamis, 17 Juli 2014

20140716 – 勤修妙法入菩提 Practice Wondrous Dharma to Enter Bodhi (mempraktekkan Dharma yang luar biasa untuk menuju kondisi Bodhi/Sadar)

20140716 – 勤修妙法入菩提 Practice Wondrous Dharma to Enter Bodhi (mempraktekkan Dharma yang luar biasa untuk menuju kondisi Bodhi/Sadar)

Setiap hari sepatutnya kita membina kondisi hati yang bersukacita. Kehidupan manusia tidaklah panjang karena itu harus banyak memahami ajaran, jangan perhitungan. Genggam waktu dan bersukacita dalam menjalani kehidupan. Kehidupan yang bisa bersumbangsih bagi orang lain setiap harinya adalah yang paling bahagia. Setiap hari kita melatih diri, bagaimana melatih diri? Asalkan setiap hari bahagia melihat orang lain, bersedia bersumbangsih, membantu orang, maka ini berarti kita sedang menanam berkah. Menjalin jodoh baik, jodoh yang sukacita. Sesuai ajaran Dharma, mengerti hukum karma. Melatih berbuat karma baik dan menjalin jodoh baik. Karena itu mendengar Dharma harus masuk ke dalam hati, baru bisa meningkatkan jiwa kebijaksanaan kita. Waktu kehidupan memang sangat pendek, tapi waktu jiwa kebijaksanaan sudah ada sejak dari awal selalu menyertai kita dalam berkali kehidupan. Jiwa kebijaksanaan adalah sifat dasar yang kita miliki, yang memang selalu ada. Hanya kita saja yang secara tidak sadar menutupinya. Karena itu perlu mendengar Dharma masuk dalam hati (聞法入心/wen fa ru xin). Bila intisari Dharma (法髓 fa sui) bisa masuk ke dalam hati dan pikiran, jiwa kebijaksanaan kita akan bisa dibangkitkan kembali.

Menaati sila dan peraturan untuk melindungi kehidupan (持戒守規護生機/chi jie shou gui hu sheng ji), adalah prinsip yang harus kita bawa sehari-hari. Sering mendengar sharing dari relawan yang pulang dan berkegiatan di griya jing si, setiap kali mau mulai bekerja di lapangan, pasti ada shifu yang selalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati memperhatikan setiap tindakan agar menyakiti begitu banyak makhluk kecil dan alam. Sebenarnya dengan bercocok tanam pun kita juga ikut membentuk struktur tanah (landscape) dan dalam prose situ sebenarnya juga banyak kebahagiaan/sukacita. Memberi pemandangan yang indah kepada orang yang melihatnya, dan saat panen merasa sukacita. Seperti halnya kegiatan bercocok tanam para staff medis di dalin. Mereka menyusun sedemikian rupa sehingga lokasi itu bila dilihat dari atas berbentuk sebuah logo Tzu Chi yang besar. Orang-orang yang melihatnya pun bisa merasa sukacita karena keindahannya. Dengan melakukan itu, kita membentuk struktur lahan, kita menanam padi-padian dengan tersusun rapi, dan semua itu bisa memberikan kebahagiaan. Sama halnya dengan hati kita. Bisa menyusun/menata sedemikian rupa sehingga memunculkan sebuah image/bentuk. Ini yang disebut Hati bagaikan pelukis (心如工畫師/xin ru gong hua shi), mau wujud seperti apa maka harus mulai ditata dengan sepenuh hati dari sejak menanam sehingga saat tumbuh besar akan menghasilkan bentuk yang diinginkan dan bisa membangkitkan sukacita di hati orang.

Jadi inilah yang disebut rajin melatih sukacita dan menanam berkah (勤修歡喜植福人/qin xiu huan xi zhi fu ren). Demikian juga dengan Great Dharma, menguntungkan diri sendiri dan orang lain (自利 利他), diri sendiri bahagia orang lain juga berbahagia. Dengan hati dan tubuh yang sehat membawa kebahagiaan di tanah kehidupan kita, dalam kehidupan kita menggenggam setiap saat menciptakan karma baik. Seperti cerita seorang nenek berusia 80 tahun di Tzu Chi Canada yang menguasai beberapa bahasa dimana saat berkegiatan di panti jompo yang mayoritas warga tionghoa, dengan kemampuan beberapa bahasa dan pemahamannya akan sutra dan kitab dia membawa rasa bahagia kepada orang di sekitarnya. Relawan ini barulah sesungguhnya yang disebut rajin melatih sukacita dan menanam berkah. Kesimpulannya, melatih diri di dunia manusia sangatlah penuh arti asalkan kita mengerti untuk bersungguh hati. Bersungguh hati dalam setiap tindakan, mendengarkan Dharma, meresapi Dharma ke dalam hati dan menggunakannya dalam berbagai cara di dunia manusia. Asalkan mendengarkan Dharma dengan baik, satu ajaran bisa digunakan untuk mengatasi berbagai hal. Bersukacita dalam setiap perbuatan. Di hati ada Buddha, di dalam tindakan ada Dharma (心中有佛 行中有法/xin zhong you fo xing zhong you fa), bila bisa melakukan seperti itu makan kita sedang melatih diri di jalan bodhisattva. Saat sang Buddha melihat ada orang-orang yang memiliki hati dan tindakan seperti itu,sang Buddha pun tahu inilah saatnya membabarkan ajaran kebenaran/mahayana.

Saat sang Buddha membabarkan satu ajaran kebenaran, yang mendengar ada hearers dan bodhisattva. Apa perbedaan hearers dan bodhisattva? Hearers adalah praktisi hinayana (kendaraan kecil) yang setelah mendengarkan ajaran Buddha memahami 4 kebenaran mulia (四諦道理/si di dao li) yang sejak awal selalu sang Buddha babarkan, yaitu 苦集滅道/ku ji mie dao. Untuk membuat orang-orang sadar bahwa hidup ini tidak kekal, hidup ini adalah penderitaan sehingga mereka akan mau mencari ajaran yang bisa membawa mereka meninggalkan penderitaan ini. Setelah mereka memahami, mereka bisa memutuskan segala pandangan dan pikiran yang delusif (見或 思或/jian huo  si huo). Karma yang terciptakan dari pandangan (melihat) yang diluar dan pemikiran yang timbul di dalam hati. Jadi hearers adalah praktisi hinayana yang memutuskan pandangan dan pikiran salah. Semua kebodohan batin, sebab kerisauan dan sebab karma buruk adalah tidak benar, semuanya harus diputuskan. Walaupun mereka praktisi hinayana, tapi juga bisa mencapai kondisi nirvana dimana hati berada pada kondisi yang jernih dan tenang. Nirvana bukanlah meninggal baru disebut nirvana tapi adalah kondisi hati yang kembali pada kondisi yang sangat jernih dan tenang. Hearers adalah praktisi yang memiliki kemampuan terbatas. Kalau bodhisattva adalah makhluk yang memiliki aspirasi spiritual yang besar, adalah mereka yang mencari jalan kebenaran dengan hati beraspirasi spiritual yang besar. Orang yang dengan setulus hati mencari ajaran kebenaran. Mereka yang benar-benar melatih diri dan memiliki 4 tekad mulia (四弘願/si hong yuan). Mencari jalan kebenaran adalah mencari maha kesadaran/pencerahan. Bukan hanya sadar akan kerisauan tapi memutuskan kerisauan, bukan hanya tahu apa yang harus dilakukan tapi harus rajin melakukan. Sang Buddha datang ke dunia untuk membimbing semua makhluk, sebagai murid sang Buddha juga sepatutnya belajar untuk membimbing semua makhluk. Jadi Bodhisattva adalah mereka yang melatih diri belajar bermanfaat bagi diri sendiri juga bermanfaat bagi orang lain.

Ajaran hinayana adalah sebagian ajaran, ajaran Mahayana adalah keseluruhan ajaran. Karena memahami akan kemampuan para makhluk menerima ajaran, maka pada awalnya sang Buddha mengajarkan ajaran yang bisa diterima dengan kemampuan terbatas. Namun keduanya, baik hinayana maupun Mahayana, semua sama-sama bisa sadar dan memiliki pengetahuan dan pandangan Buddha. Sang Buddha berharap semua orang bisa mencapai ke-buddha-an maka juga berharap para praktisi hinayana bisa menjadi praktisi Mahayana. Berharap semuanya bisa mendapatkan ajaran yang sempurna, yang lengkap. Orang yang memiliki kemampuan yang besar, hanya dengan satu kalimat bisa memahaminya. Orang dengan kemampuan yang terbatas, butuh kesabaran dan berbagai cara untuk membuatnya paham.

Sebelumnya pernah disebutkan tentang 9 divisi pengajaran (九部法/jiu bu fa) dimana salah satunya adalah gatha. Kalimat dalam sebuah gatha biasanya terdiri dari 4, 5, 7 atau 8 karakter huruf. 4 kalimat saat digabung menjadi satu disebut versa (paragraph?). Orang dengan kemampuan besar, dengan hanya mendengar satu versa dari sutra, bisa langsung memahami makna keseluruhan. Namun mereka yang berkemampuan terbatas, perlu diberi penjelasan dengan berbagai kalimat yang panjang dan mereka akan berkembang dengan perlahan. Karena itulah disebutkan bahwa setiap saat kita harus ada pikiran yang fokus akan Buddha (深心念佛/shen xin nian fo). Pikiran yang seperti itu, tidak meninggalkan Buddha tidak meninggalkan Dharma, maka dalam setiap tindakan kita akan selalu berpanduan akan ajaran Buddha, dengan demikian menjadi Buddha tanpa keraguan. Untuk menjadi Buddha, seorang bodhisattva harus melatih 6 paramita hingga kondisi yang sempurna sehingga bisa mendapatkan kesadaran hingga menjadi Buddha. Saat kita mendengarkan Dharma harus memiliki keyakinan dan tanpa keraguan. Dengan demikian hati kita bisa merefleksikan hati Buddha. Ada Buddha di hati, ada Dharma dalam setiap tindakan, kita harus memiliki keyakinan maka kita akan dengan mudah masuk di jalan pembinaan diri. Pelatihan diri bodhisattva harus  satu niat satu tekad. Giat untuk maju, jangan mudah menyerah. Semua berasal dari satu niat, maka setiap saat kita harus bersungguh hati.

Ringkadan oleh Elvy Kurniawan

Rabu, 16 Juli 2014

20140715 活在秒法中 / Hidup dengan Dharma yang Menakjubkan.

20140715 活在秒法中 / Hidup dengan Dharma yang Menakjubkan.

Dengan Keyakinan (信),Kesungguhan (實),Ketulusan (誠),Kebenaran (正 ) meresapi Dharma ke dalam hati.

Dengan akar yang mendalam, kita akan memiliki cinta yang tak terbatas.
Walaupun label agama yang berbeda, namun semuanya mengajarkan prinsip luhur yang sama.
Kesatuan dan harmoni telah terbukti di aula jingsi. 

Dalam memperlajari Ajaran Buddha, fokusnya ada pada hati dan pikiran kita.

Keyakinan (信) sangat penting. Hanya dengan akar dari keyakinan sumber dari kebajikan.

Bisakah kita menumbuhkan akar dari kebaikan?
Mengenai keyakinan, kita harus memiliki keyakinan yang tepat.
Layaknya akar keyakinan harus dalam dan luas.

Seperti kita menapaki jalan Kebuddhaan, ini adalah minset yang sangat penting untuk dimiliki. Kita harus selalu  memegang teguh.

Kita tidak dapat memiliki banyak ekspetasi yang tidak nyata. Jika iya, kita akan menyia-nyiakan waktu kita.

Disamping dari keyakinan dan kesungguhan, kita juga harus memiliki ketulusan dan kebenaran.
Ketulusan kita murni, tanpa paksaan apapun.

Kita tidak dipaksa untuk melakukan oleh orang lain.
Kita mencari dan belajar jalan Kebuddhaan dengan ketulusan.

Sepanjang kita belajar Dharma juga membutuhkan integritas. Kita tidak menyimpang bahkan sedikit.
Sedikit penyimpangan akan menyebabkan perbedaan besar.

Setelah kita mengetahu prinsip ini, kita harus mempraktekkannya baru menunjukan bahwa Dharma meresap kedalam.

Kita belajar Ajaran Buddha sepeerti sebuah pohon besar. Pohon Bodhi dapat melindungi tanah dan air seperti mereka mempersempahkan naingan dan tempat tinggal bagi banyak orang dan dapat memberikan angin segar bagi dunia.
Pohon bodhi seperti menyedikan dengan cinta dan perhatian. Ini yang kita pelajari dari pohon bodhi.

Praktisi spiritual juga disebut praktisi agama.
Maka muncul banyak agama didunia sekarang. Memang banyak keyakinan yang berbeda dengan nama yang berbeda.

Jadi..
" Agama diberi label yang berbeda, tapi memiliki ajaran ajaran luhur yang sama".
Ada kebaikan, ada ajaran yang tepat, dari semuanya.
Jadi di Katholik. Protestan dan Islam semuanya muncul cinta kasih universal dan kebajikan.

Buddhisme, khususnya di Tzuchi , apa kita telah terus menerus menggerakan cinta kasih?
Cinta kasih dan kasih sayang adalah kasih yang besar/ great love, dan great love akan menemukan rumah dalam cinta kasih dan kasih sayang.

Jenis cinta ini akan timbul dari pikiran orang meskipun agama-agama kita memiliki nama yang berbeda , mereka semua mengajarkan prinsip yang luhur.
Kebaikan ini muncul dari pola pikir yang sama. Hanya cara yang diajarkan yang berbeda.


Jadi Buddha berkata " Dengan menembus pikiran , Sadar akan Buddha (dalam diri), dan menegakkan ajaran yang memurnikan".
Ketika mereka mendengar mereka dapat mencapai Kebuddhaan mereka penuh dengan sukacita.  Maka, saya mengajarkan mereka kendaraan besar.

Untuk berlatih di jalan Bodhisattva, tubuh dan pikiran harus berada dalam keadaan tenang dan jernih. Mereka berlatih memberikan tanpa syarat dan menegakkan ajaran yang disiplin untuk menjaga noda pikiran. Ini mengarah langsung untuk mencapai Kebuddhan.

Belajar Dharma, akan menjadi bahagia.
Sangat sulit untuk terlahir sebagai manusia, sekalipun sulit untuk dapat bertemu dengan Buddha Dharma.
Sekarang dapat menjadi manusia dan belajar Ajaran kendaraan besar. Seperti embun yang memberikan nutrisi pada batin dan penuh dengan sukacita.

Dalam 6 Alam, hanya pada alam manusia dapat belajar Dharma.  
So, we must carefully and steadily walk this path. 
Wo men yao shi shi gan en, shi shi yong xin.

Gan en.

Ringkasan oleh Yeyen di Jambi

Selasa, 15 Juli 2014

20140714: Memasuki Inti Dharma secara Mendalam

20140714: Memasuki Inti Dharma secara Mendalam - Deeply penerate the Dharma Essence - 深心入法髓

Untuk mempelajari jalan Budha, kita harus menyerap Dharma ke dalam hati, lalu mempraktekkannya. Demikianlah kita menerima ajaran Budha, sehingga Dharma bisa memelihara hati kita. Saat Dharma masuk ke dalam hati, kita harus benar2 menerimanya sehingga bisa membangkitkan True Wisdom (kebijaksanaan sejati) kita.

Sekarang kita melatih diri untuk mengurangi kegelapan batin, selapis demi selapis, dan membangkitkan kebijaksanaan sejati yang tersembunyi. Untuk membangkitkannya dibutuhkan kerja keras. Jika kita tidak giat, maka sifat hakiki Budha juga tidak dapat dipraktekkan. Kita harus menggunakan ajaran Buddha untuk memelihara hati kita dan mulai giat membersihkan kegelapan batin.

Apapun Dharma yang kita dapatkan, kita harus mengikutinya dengan baik untuk membersihkan lapisan2 kegelapan batin di dalam hati kita. Dan kita harus memegang teguh ajaran Great Vehicle.

Dulu, Budha dengan sabar mengajarkan kita ttg hukum karma dan membantu kita untuk memahami bahwa hati/pikiran kita merupakan sumber penderitaan. Satu niat kegelapan batin dapat membangkitkan ketamakan, marah, dan kebodohan, konflik antar sesama, dan isi dgn org lain. Ini menimbulkan penderitaan. Budha ingin kita paham bahwa penderitaan adalah berasal dari kumpulan karma kita. Setelah paham, kita harus waspada dgn hati/pikiran kita dan melatih sila, samadhi, kebijaksanaan.
Jika sesuatu yang dpt kita lakukan untuk menolong org lain, kita harus lakukan dgn segera, dengan begitu bisa bermanfaat bagi org lain.

Kita tidak seharusnya mengotori dan membuat karma buruk. Virtuous Dharma (善法)berasal dari kebejikasanaan sejati yang mendalam, menakjubkan. Saat kita melatihnya, maka kita melatih welas asih (慈)dan belas kasih (悲). Melatih si wu liang xin (四無量心) saat berinteraksi dgn sesama adalah bagian dari ajaran Great Vehicle.

Senin, 14 Juli 2014

20140128 Pratyekabuddha merenungkan 12 Sebab dan kondisi

20140128 Pratyekabuddha merenungkan 12 Sebab dan kondisi. Solitary Realizations Contemplate Impermanence 

Kita harusnya tahu jelas apa itu enam pintu (六根门) yaitu : mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran. Dengan membuka mata kita, kita membuka sebuah pintu kesadaran. Barang yg kita lihat, sebenarnya apa yg kita lihat? Pikiran kita timbul pikiran seperti apa? Ini disebut membuka pintu, melihat objek diluar. Dengan prinsip ini, dapatkah kita melalui pintu mata dan sekeliling kita mendapat kebijaksanaan? Atau ketika melihat kondisi luar membuat pikiran kita timbul keinginan? 

Tentu, melatih diri diharapkan kita bisa berpengertian. Apa yg kita lihat pada kondisi luar, kita harus dengan cepat untuk memahaminya. Melihat ekspresi wajah seseorang, semuanya adalah ekspresi wajah yg indah. Ketika melihat senyum, ramah, kita bersyukur bertemu dengan orang yg berjodoh. Ketika melihat wajah yg marah, juga bersyukur karena bertemu lagi dengan teman spiritual. Jika kita mampu berpengertian seperti ini, ketika setiap pintu terbuka, melalui setiap pintu yg terbuka kita berpengertian. Dengan begitu, enam pintu kita, semuanya bisa mengembangkan potensi bajik. 

Mereka yg di zaman Buddha sangat memiliki berkah bisa dengan mata sendiri langsung melihat Buddha, dengan telinga mendengar langsung ceramah dari Buddha. Hearers, Pratyekabuddha dan Bodhisattva juga orang-orang di India sangat memiliki berkah. Namun pada zaman tersebut, apakah benar mereka memiliki berkah? Apakah setiap orang mendengar Dharma, bisa menerima dan menerapkan ajaran? Sebenarnya ingin bertemu dengan Buddha, jika tidak ada jalinan jodoh yg cukup, juga tidak bisa bertemu Buddha. Dalam 6 pintu ini jg sulit untuk bertemu dengan Buddha Dharma. 

Pratyekabuddha, Hearers memiliki kebijaksanaan yg lebih tinggi dari orang biasa, mereka bisa menyadari ketidakkekalan, melihat matahari dan bulan yg terbit dan terbenam. Sepenuh hati dengan kondisi natural ini mereka bisa menyadari ketidakkekalan. 

Pratyekabuddha sungguh-sungguh menerungkan kondisi luar, sangat sepenuh hati dengan ajaran dalam kehidupan, ditambah lagi dengan mendengar Dharma Buddha, dia bisa berpengertian, perlahan-lahan mendekati kebijaksanaan Buddha. Ini tidaklah mudah, tetapi mereka hanya fokus pada diri sendiri, melindungi diri sendiri.

Di dalam agama Buddha dikatakan :tidak menjalin jodoh baik, tidak akan ada kesempatan untuk menjadi Buddha, jadi sebelum menjadi Buddha, harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik dengan orang-orang yaitu dengan berbuat baik, membuat orang happy, menolong mahkluk hidup, menyelesaikan kesulitan orang, dengan begini barulah ada kesempatan menjadi Buddha. 

6 pintu kita, bisa memenuhi banyak potensi kebajikan, tidak peduli dari yg dilihat oleh mata, yg dikatakan oleh mulut, atau yg didengar oleh telinga, dll. Semuanya adalah pelajaran untuk pikiran dan tubuh kita. Semua dimulai dari 6 pintu. Jadi melalui 6 pintu ini, kita harus dengan sungguh sungguh mendengar ajaran, menyerap ke dalam hati dan  menerapkan ajaran. Jika tidak, walaupun hidup sezaman dengan Buddha juga tidak ada gunanya. 

Pratyekabuddha adalah mereka yg menyadari kebenaran melalui mengamati sebab dan akibat dalam lingkungan mereka. 
12 sebab dan kondisi yaitu mengamati bagaimana datang dan perginya tubuh jasmani? 
Melalui 12 sebab dan kondisi, setelah merasakan dan memahaminya, mereka mendapatkan hasil kekosongan sejati Nirvana. Ajaran Buddha yg sesungguhnya adalah memahami semuanya adalah kosong, semuanya kembali ke nol, tetapi harus tahu bahwa di dalam kekosongan ada ajaran yg menakjubkan. Pratyekabuddha belum mencapai kondisi ini, dia hanya memahami kekosongan sejati. 
Dia hanya mengerti satu bagian, tapi tidak yg kedua. Buddha memahami keduanya.
Hanya mengerti kebijaksanaan, tidak tahu menciptakan berkah, itu tidaklah cukup. 

12sebab dan kondisi, bagaimana datangnya kehidupan kita? Kita perlu untuk memahaminya. Ini adalah 3 Masa kehidupan. Kehidupan kita yg sekarang adalah hasil dari apa yg kita lakukan pada kehidupan lampau. Mahkluk hidup adalah masa lalu, sekarang dan masa depan, berputar dalam 6 alam. Jadi kita bisa punya berkah untuk melatih diri, kita harus sepenuh hati memahami bagaimana datang dan perginya kehidupan kita. 

Kebijaksanaan Pratyekabuddhas yaitu dengan sungguh-sungguh merenung bagaimana datangnya kehidupan ini, dia bisa merasakan ajaran Buddha. Jadi sebagai praktisi Buddhist selain mendengar dengan telinga, kita juga harus merenungi dengan cermat. Shi shi yao duo yong xin.

Ringkasan oleh Marisa Stephanie

Minggu, 13 Juli 2014

20140127: Hearers carry out the teaching

20140127: Hearers carry out the teaching

Ketika Buddha bermanifestasi di dunia,setiap orang dapat mendengar ajarannya secara langsung. buddha mengajarkan metode keterampilan sesuai kemampuan setiap orang Sesuai dengan kemampuannya. beliau memberikan ajaran yang provisional.beliau dengan cerdas memikirkan metode terampil

Buddha selalu menyimpan maksud sesungguhnyad. Dengan welas asih beliau  menunggu kesempatan yang tepat untuk dengan bebas mengungkapkan apa yang sesungguhnya ingin beliau ajarkan. ketika muda menjelaskan secara terperinci kemampuan apa yang dibutuhkan untuk menerimanya? 

karena kewelasasihannya, Buddha tidak pernah kehilangan harapan bahwa saat untuk mengajarkan hal tersebut akan tiba beliau mau secara universal memberikan pelajaran yang ingin ia berikan. tapi beliau harus menunggu sangat lama karena kamu pun dari makhluk hidup sudah mulai pudar. jadi dengan welas asih dan dengan sabar serta hati hati Buddha membimbing mereka. ia menunggu saat setiap orang bisa mengerti ajarannya, mengerti kebenaran dari kendaraan tunggal.

setelah budaya berpikir dalam waktu yang lama, kebenaran dan kenyataan telah dikatakan. Ini mengacu pada  "Beliau mengatakan kepada semua pendengar dan orang yang mencari pratyekabuddha vehicle. Saya akan dapat membuatk kamu melepaskan ikatan penderitaan dan mencapai nirvana."

yang terpenting yang dilakukan adalah buddha mempertinggi pemikiran dari para pendengar. Kita harus menyadari untuk mempelajari ajaran Buddha kita harus menyadari pikiran, pengetahuan, dan sudut pandang Buddha. Kita harus dapat melihat dunia yang sama. Pandangan Buddha jauh kedepan, terbuka, dan luas. Segala hal di dunia tidak ada yang Buddha tidak mengerti. Beliau juga berharapkita dapatmemiliki pandangan yang sama dengannya sehingga kita dapat mengerti semua hal.

Setiap orang harus menemukan sifat kebuddhaan dalam dirinya secepat mungkin. Kita tidak dapat hanya bergantung pada ajaran eksternal untuk mengerti Dharma. Kita harus menyadari penderitaan di dunia yang tak lepas dari karma, menyadari bagaimana sebersit pikiran dapat menciptakan karma.

Kebijaksanaan Buddha timbul darihatinyadan disebafkan lewat suaranya. Sebagaipraktisi Buddhis yang mengikuti Buddha, satu hal yang harus kita lakukan adalah menundukkan ketamakan, kemarahan, dan ketidaktahuan. Ketika kita menghadapi orang dan masalah, kita harus harus menyingkirkan sifat arogan dan angkuh.menyadari 4 kebeneran mulia serta dapat menghilangka delusi pikiran dan pandangan. Pikiran dan pandangan kita sangat kompleks. Setelah mendengar ajaran Buddha kita harus secepatnya menyesuaikan pikiran dan pandangan kita. Kita harus dapat saling mengerti. Setiap orang memiliki pemikiran dan pandangan yang berbeda.

Tiga tingkat kemampuan: superior(Bodhisatwa), average (solitary realizers dan pratyekabuddha), dan limited (hearers).

Hearers: sejak mereka mau mendengar, mereka harus percaya, dan kemudian mempraktikkan ajaran. Menjernihkan pikiran dan fokus pada their own awekiening. Mereka hanya fokus pada diri sendiri. Mereka bias dan terikat. Tidak ada hal yang ingin mereka lakukan selain mencapai pelatihan diri untuk menghindari samsara di enam alam. Ni yang mereka pahami. Mereka mengikuti Buddha tetapi tidak bertekad. Tahap demi tahap kemampuan kita harus bertambah. Setiap orang harus lebih bersungguh hati.

Ringkasan oleh Juliana Santy